welcome


web stats

Popular Posts

MEREKA YANG TERPILIH



Rasulullah datang, umat ini bersatu di atas agama yang satu, yakni agama Islam yang diridhai-Nya. Itu semua merupakan nikmat Allah sebagaimana yang Allah abadikan dalam ayat-Nya (artinya): “Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hatimu, dan dengan nikmat Allah-lah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Betapa mahalnya ukhuwah ini, dia tidak bisa ditukar dengan dunia dan seisinya sekalipun.
Allah berfirman (artinya): “Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati-hati mereka (kaum mukminin), seandainya kamu membelanjakan dunia dan seisinya, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah lah yang mempersatukan hati-hati mereka.” (Al Anfal: 63

Sesungguhnya Islam telah menghimbau kepada umatnya untuk senantiasa menjaga ukhuwah ini, karena pada hakekatnya kaum mukminin itu bersaudara. Mereka bagaikan susunan bangunan yang kokoh yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
 Rasulullah Saw bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang saling menguatkan bagian satu dengan bagian yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaum mukminin itu seperti satu anggota tubuh, jika salah satu anggota tubuh tersebut merasakan sakit, maka bagian tubuh yang lain juga akan merasakan sakitnya.
Nabi bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَ اشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam telah melarang umatnya dari perbuatan acuh dan memutuskan hubungan di antara mereka. Nabi bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“Tidaklah halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, mereka bertemu namun saling tidak menghiraukan. Adapun yang lebih baik di antara keduanya adalah siapa yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Mengamalkan hadits tentang hak seorang muslim terhadap muslim yang lainnya.
Rasulullah bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ : إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَشَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain itu ada enam: (yaitu) apabila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam, apabila dia mengundangmu, penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu, nasehatilah dia, apabila dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah, doakan dia (dengan mengucapkan Yarhamukallah), apabila dia sakit, jenguklah dia, dan apabila dia meninggal, iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

SAUDARA PENOLONG SEJATI MENURUT ALLAH DIANTARANYA
Allah SWT Berfirman yang artinya :
( At Taubah 67 ) Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648].
Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

(At Taubah 71) Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Menasehati dalam kebenaran, dan mencegah kemungkaran dengan lisan dan tindakan serta mendoakan,
banyak dikalangan ini keberatan, kurangnya pemahaman, karena sesuatu yang berharga ada terdapat ujian didalamnya, seperti tahajud yang berpahala besar, itu berat bagi yang gak biasa menjalankan.

 Diantaranya was-was syetan menyerang kepada ranah amalan utama dalam Islam, dalam dakwah pun demikian, sebuah profesi para manusia terbaik para Nabiyullah dan Wali Allah, siapa yang melebihi dari mereka ?, Nilai dakwah yang sangat diremehkan sehingga keutamaan memperbaiki diri, keluarga dan sahabat kita seiman kurang mendapat perhatian, padahal bila mereka terjatuh kelembah maksiat, menunda shalat, kelalaian lainnya lambat laun akan menggiring kepada perbuatan yang semakin menyesatkan, dan akan menjadi tanggung jawab kita juga, tidak ada para shalihin, shahabat Nabi, para Nabi membiarkan saudaranya dalam kegelapan, tidak bisa kita diperintahkan ibadah sendiri, baik sendiri, mau masuk syurga sendiri, membiarkan yang lain termakan oleh nilai pelanggaran Allah dan Rosul-Nya, padahal kalau kita perhatikan sedemikian banyaknya di zaman ini pelanggaran terhadap agama Allah, sebenarnya ini peluang untuk dijadikan ladang amal. Peluang yang sangat mahal, Semoga Allah menyatukan hati-hati kita sesama saudara seiman, amin.

Pempuka Suksesnya Amal Shaleh



Beramal sholeh itu penting. Tetapi yang jauh lebih penting lagi adalah beriman yang benar sebelum beramal. Sebab bila iman sudah benar, maka sekecil dan sesedikit apapun amal seseorang, niscaya ia akan memperoleh balasan yang baik dan berlipat dari Allah سبحانه و تعالى di akhirat kelak. Namun sebaliknya, sebanyak apapun amal seseorang jika tidak dilandasi oleh iman yang benar, niscaya ia akan merugi di akhirat kelak.

Sebab Allah سبحانه و تعالى tidak akan memberikan penilaian apapun atas amal yang tidak berlandaskan iman yang benar tadi.
Hidup di era penuh fitnah seperti saat ini banyak sekali ditemukan ancaman terhadap eksistensi iman yang benar. Tawaran untuk mengingkari Allah سبحانه و تعالى sangat banyak dan menggiurkan. Tawaran untuk berkompromi bahkan bekerjasama dengan thaghut sungguh sangat ramai dan menjanjikan keuntungan duniawi. Keadaan dunia dewasa ini sangat tepat digambarkan oleh hadits Nabi صلى الله عليه و سلم berikut ini:

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (HR Muslim – 169) Shahih

Di dalam kitabnya berjudul Dhawabith At-Takfir ‘inda Ahlis-Sunnah wa Al-Jama’ah, Mas’ud bin Faisol menguraikan sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama:
1) Sombong dan menolak beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala,
walaupun membenarkan dan mengakui kebenaran Islam
2) Syirik dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala
3) Membuat perantara dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan
meminta pertolongan kepada selain Allah subhaanahu wa ta’ala
4) Mendustakan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam atau membenci sesuatu
yang beliau bawa walaupun ia melakukannya
5) Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafiran mereka
atau membenarkan mazhab (faham/keyakinan) mereka
6) Memperolok-olok Allah subhaanahu wa ta’ala, Al-Qur’an, Al-Islam, pahala dan
siksa, dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam atau salah seorang Nabi ‘alaihimus-salam, baik ketika bergurau ataupun
sungguhan
7) Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang Islam
8) Meyakini bahwa ada sebagian orang yang boleh keluar dari ajaran Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak wajib mengikuti ajaran beliau
9) Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi shollallahu
‘alaihi wa sallam atau meyakini ada hukum yang lebih baik daripada hukum
beliau yang berlandaskan syariat Allah subhaanahu wa ta’ala

Dewasa ini, tidak sedikit kaum muslimin yang ber-islam menurut kemauannya sendiri atau kemauan orang lain. Sehingga ia membuat kriteria sendiri siapa yang disebut muslim. Dan karena kriteria itu adalah buatannya sendiri, maka cenderung disesuaikan dengan keinginan pribadi. Misalnya, dia menganggap dirinya muslim bila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, tanpa memandang perlu memahami konsekuensinya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 8-9)

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa [4] : 65)

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاالَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi 103-104)

Kita semua berlindung kepada Allah dari perbuatan dosa, baik yang menyebabkan diri kita dipandang “sekadar” bermaksiat kepada Allah, apalagi yang sampai menyebabkan diri kita tidak lagi dipandang Allah masih merupakan seorang beriman. Na’udzubillahi min dzaalika.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ
“Ya Allah, aku meminta kepadamu keimanan yang tidak akan murtad.” (AHMAD – 4112)

Harapan Ampunan Hanya Kepada Allah Swt

HARAPAN AMPUNAN HANYA KEPADA ALLAH SWT

Manusia terkadang tergelincir, berbuat keliru, mengalami masa stagnan dalam berbuat baik atau teledor dalam melakukan hak Allah. Oleh karena itu, Allah telah menjadikan jalan bagi siapa saja yang mengalami hal demikian untuk merenungi apa yang telah terjadi, yaitu bersegera melakukan perbuatan baik.

Alalh Ta’ala berfirman, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”(Q.s.,Hûd:114). Perbuatan ta’at apa saja atas izin Allah dapat memecahkan gelapnya ke-maksiatan

Semua manusia pasti melakukan kesalahan. Karena itu, bertindak keliru atau memiliki keterbatasan bukanlah suatu ‘aib akan tetapi yang dikatakan ‘aib itu adalah terus-menerus di dalam kesalahan ini, membiarkannya dan tidak mempedulikannya. Hendaknya seorang hamba memandang kepada keagungan Dzat Yang ia maksiati dan lakukan kesalahan terhadap-Nya dan janganlah memandang kepada kecilnya suatu kemaksiatan. Dari itu, hendaknya ia bersegera untuk bertobat dan kembali kepada-Nya serta meminta ampunan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai kaum Mukmiin, semoga kamu beruntung.” (an-Nuur:31) Dan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dial-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zumar;53)

Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam semua perbuatannya sehingga ia bisa membersihkan dan memperbaikinya. Semuanya sudah diperhitungkan atasnya, dicatat di dalam lembaran amal-amalnya baik kecil mau pun besar.

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya, [7]. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (az-Zalzalah:7-8)

SELALU BERSAMA ALLAH


Sesungguhnya hari-hari itu beredar diantara manusia, senantiasa berganti dan bertukar, keadaan pun senantiasa berubah. Orang yang kuat tidak selamanya kuat, yang berkuasa tidak selamanya berkuasa, yang lemah tidak selamanya lemah. Keadaan itu akan silih berganti menimpa umat dan bangsa, sebagaimana yang terjadi pada perorangan. Hikmah Allah pada semua itu ialah hendak menguji orang-orang mukmin, hendak mencoba orang-orang yang benar, hendak membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Alangkah dekatnya Tuhanmu kepada dirimu, sedangkan engkau tak mau mendekati-Nya. Alangkah cintanya Dia kepadamu, sedangkan engkau tak mau mencintai-Nya. Alangkah besarnya kasih sayang-Nya kepadamu, sedangkan engkau melupakan kasih-sayang-Nya. Ia telah berkata dalam hadist :

“Aku menuruti keyakinan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku selalu menyertainya bila ia mengingat-Ku. Maka jika ia mengingat Daku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya didalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku ketika dia sedang berada di tengah-tengah khalayak ramai, niscaya Kuingat dida di dalam kumpulan orang yang lebih baik daripada mereka itu. Bila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka aku mendekat sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari”. (HR : Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

RINGAN DALAM HISAB



Rasulullah Saw adalah orang yang paling giat bekerja dan beramal shalih, semangat dalam ibadah, dan gigih dalam berjihad. Akan tetapi pada saat yang sama beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah Swt daripada kenikmatan duniawi. Ibnu Mas’ud Ra melihat Rasulullah Saw tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah Saw, bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Rasulullah Saw menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengembara yang mampir sejenak di bawah sebatang pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR, al-Tirmidzi)

Oleh sebab itu langkah orang zuhud selalu memilih jalan di sisi Allah dan berpaling dari sesuatu untuk membebaskan diri dari kecintaan dan ketergantungan pada selain Allah. Rasulullah Saw bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain, maka setiap orang akan mencintaimu.” (HR, Ibnu Majah). Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda,

“Sesungguhnya Allah melindungi hamba-Nya yang beriman dari dunia, sebagaimana sakit yang menimpa salah seseorang dari kalian telah mencegahnya dari makan dan minum.” (HR, Ahmad dan Hakim)

Kecintaan dunia yang berlebihan, akan sangat melalaikan hati dan sedikit demi sedikit hati akan berkarat, jadilah seseorang akan menjadi kikir, menjadi tamak, menumpuk harta, dan cenderung menjadikan jiwanya sakit serta malas beribadah akibat tingkat kenyamanan yang sangat tinggi, maka dari itu ibadah, sedekah, zakat menyucikan jiwa dari kecintaan duniawi. Menabung di dunia dan akhirat, menambah keberkahan hidup, dan akan memperingan hisab di yaumil akhir karena perhitungan harta memakan waktu yang paling lama dalam amalannya. Semakin disedekahkan, dicari dari jalan halal Insya Allah seorang hamba akan selamat, hisabnya akan ringan seperti sebuah riwayat yang cukup dikenal yaitu Abdurrahman bin Auf.

Ia pernah mendengar bahwa suatu hari Rasulullah saw bersabda : Wahai Ibnu Auf, engkau termasuk orang kaya, dan engkau akan masuk ke dalam surga secara perlahan-lahan (dengan cara merangkak), maka pinjamkanlah harta kekayaanmu itu kepada Allah, niscaya Allah akan meringankan langkah kakimu.

Sejak itu, ia meminjamkan harta kekayaannya itu kepada Allah dengan sebaik-baiknya, dan Allah melipatgandakan hartanya sebanyak-banyaknya. Ia juga menginfakkan lima ratus ekor kuda untuk pasukan kaum Muslim, dan pada hari yang lain ia menginfakkan seribu lima ratus hewan tunggangan bagi kaum Muslimin. Allaahu a’lam

WAJIB MEMBIASAKAN ANAK SHALAT


Walaupun anak kecil belum diwajibkan mengerjakan shalat hingga ia besar atau baligh, namun dituntut dari walinya (orangtua atau pihak yang bertanggung jawab mengasuh anak tersebut) agar memerintahkan si anak mengerjakan shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun, dan menghukumnya dengan pukulan bila ia meninggalkannya ketika telah berusia sepuluh tahun dalam rangka pengajaran dan latihan, bukan karena pewajiban. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ. وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ. وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila meninggalkan shalat pada saat mereka telah berusia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud no. 495 dan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud dan Irwa`ul Ghalil no. 247)
Al-Imam As-Syaukani rahimahullahu berkata, “Hadits ini menunjukkan wajibnya memerintahkan anak kecil untuk mengerjakan shalat bila mereka telah mencapai usia tujuh tahun, dan mereka dipukul bila tidak mau mengerjakannya pada usia sepuluh tahun….” (Nailul Authar,1/413)

Shalat merupakan amalan yang tinggi dan utama bila dibandingkan amalan-amalan lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang seseorang melakukannya sampai ia mencuci anggota-anggota wudhunya, ditambah dengan memerhatikan kebersihan badan seluruhnya. Demikian pula pakaian dan tempat shalat harus suci/bersih dari kotoran/najis. Bila tidak mendapatkan air atau udzur untuk menggunakannya, maka ia dapat menggantinya dengan tayammum. Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan dan tingginya kedudukan shalat dalam agama ini, di antaranya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1358 karena banyak jalannya)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُوْلُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوْا: لاَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئاً. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Apa pendapat kalian bila ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, di mana dalam setiap harinya ia mandi di sungai tersebut sebanyak lima kali, apa yang engkau katakan tentang hal itu apakah masih tertinggal kotoran padanya?” Para sahabat menjawab, “Tentu tidak tertinggal sedikitpun kotoran padanya.” Rasulullah bersabda, “Yang demikian itu semisal shalat lima waktu. Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim no. 1520)

SEDEKAH YANG PALING BESAR



Rasulullah dalam sebuah hadits menjelaskan prinsip dalam berinfaq yang paling afdhal, cara infak yang paling bagus yang paling besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu anhu: “Ada seorang laki laki mendatangi Rasulullah, kemudian laki – laki tadi bertanya:”

يا رسول الله أي الصدقة أعظم فقال أن تصدق وانت صحيح شحيح تخشى الفقر وتأمل الغنى ولا تمهل حتى اذا بلغت الحلقوم قلت لفلان كذا ولفلان كذا ألا وقد كان لفلان

Wahai Rasulullah, shadaqah seperti apa yang paling besar pahalanya? Maka Rasulullah menjawab. “ Shadaqah yang paling besar pahalanya itu adalah, saat engkau bershadaqah itu kamu masih sehat bugar, kamu masih dalam kondisi pelit saat itu – yakni berat sekali mengeluarkan uang – saat itu kamu takut miskin

– yakni emang sayang dengan uangnya- dan kamu bercita – cita menjadi orang kaya saat itu serta kamu tidak menunda – nunda infaqmu sampai ketika ajal di kerongkongan baru kemudian kamu keluarkan, – kemudian kamu kumpulkan keluargamu – dan bilang : “Nak, sekian ini untuk si fulan, sekian ini untuk si fulan

– infaq maksudnya – padahal saat dia telah meninggal dunia harta itu sudah beralih tangan menjadi hak ahli waris.” (Hadits Riwayat Muslim No. 1032)
Nilai shadaqah saat itu sangatlah rendah di sisi Allah. Dalam hadits ini ada prinsip yang harus kita pegang, yakni shadaqah yang paling besar pahalanya adalah ketika kita masih segar bugar, masih senang duit, masih bercita – cita jadi orang kaya, sehingga berat sekali mengeluarkan hartanya dan tidak ditunda – tunda sampai mau sekarat baru kemudian mau berinfaq.

Mudah – mudahan Allah Subhanahu wa Taala menjadikan kita termasuk orang yang memanfaatkan kesempatan yang baik ini, bershadaqah fii sabilillah dengan cara yang menyebakan shadaqah kita mendapatkan pahala yang paling besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.